Vladimir Lenin, Teologi Dan Negara

Marxisme Leninisme, Terkait agama dan negara harusnya tidak menjadi soal serius untuk di upayakan oleh para elitis yang berpihak pada borjuis, sebab agama sebagai rujukan pribadi seseorang harus tetap dimiliki orang tersebut tanpa intervensi negara di ruang privat, Lenin berupaya menjabarkan masalah masalah sosio -politik sebagai penjabaran ilmiah, seperti kita ingin di beritau bahwa teologis itu hanya untuk diri kita sendiri dan tak boleh siapapun mengikatnya atau memberi paham kritik terhadap sikap bergama, maka dari itu pada era Lenin, se-sedikit mungkin memberikan label agama pada indetitas, karena negara tak berhak tau urusan paling dasar manusia terkait agama dan tidak mengatur agama mana yang bisa di gunakan atau yang tidak bisa, tugas negara adalah melindungi penduduknya dan memberikan rasa aman bahkan bagi seorang ateis. Pada taraf ini bisa dikatakan bahwa Lenin adalah seorang yang mengahargai privasi orang lain, dan memang begitu seharusnya sikap seorang, baik priayi, proletar, ataupun borjuis. 

Kita melihat ini sebagai dasar pikiran bahwa sikap seorang pejabat publik adalah menjalankan kewajiban konstitusi tanpa improvisasi perihal privasi warganya, sebab negara ini di dirikan oleh para tokoh yang amat sangat menghargai keberagaman agama dan ideologis nya, kita bisa melihat sejarah ulang, Tan Malaka dengan madilognya berusah mengaktifkan akal sehat dengan penyampain ilmiah yang provokatif didalam nalar, atau Sutan Sjahrir berdiri dengan sosialisme tanpa mencampuri urusan teologis yang ada pada dirinya, kita ingin melihat bahwa politik itu adalah alat kita untuk mengotrol kekuasaan melalui terminologi akademis ataupun pikiran yang berbasis akal sehat, sehingga negara ini tidak tumbuh dalam kebodohan pejabatnya dimasa yang akan datang, dan urusan agama atau semacamnya biarlah menjadi urusan masing masing individu, mereka berhak dan sebebas- bebasnya menentukan pilihan yang mereka ingin, beragama tuhan yang mana maupun tidak memilih sama sekali. 

Komentar